Monday, August 28, 2017

Benarkah orang yang akan berqurban haram memotong rambut dan kukunya?

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Related image

TANYA: Benarkah orang yang akan berqurban haram memotong rambut dan kukunya?
JAWAB: Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
Yang dimaksud dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainnya.
Larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara cukur, memotong, mencabut, membakar, mengambil dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, rambut kemaluan, rambut kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan.
Dasar ketentuan bagi penyembelih hewan udhiyah untuk tidak mencukur rambut atau memotong kuku, adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الحِجَّة وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Bila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan seseorang di antara kalian ingin berqurban, maka jagalah rambut dan kuku-kukunya,” (HR. Muslim).
Selain hadits di atas, juga ada hadits shahih riwayat Muslim lainnya, yang datang dengan redaksi dan lewat jalur yang berbeda, namun materinya masih sejalan.
إِذَا دَخَل الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا
Dari Ummu Salamah Ibnuda Mukminin radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila telah memasuki hari yang sepuluh dan seseorang ingin berqurban, maka janganlah dia ganggu rambut qurbannya dan kulitnya,” (HR. Muslim).
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَأَهَلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ‏
Dari Ummu Salamah Ibunda Mukminin radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang punya hewan untuk disembelih (sebagai qurban), lalu datanglah hilal bulan Dzulhijjah, hendaknya jangan mengambil dari rambut dan kukunya sedikit pun, hingga selesai menyembelih,” (HR. Abu Daud).
Namun sebenarnya para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, apakah hadits di atas itu menjadi dasar masyru’iyah atau tidak? Dan kalau menjadi dasar masyru’iyah, mereka berbeda apakah hukumnya memang sunnah atau kewajiban?
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Al-Majmu’ bahwa setidaknya adalah lima pendapat yang berbeda, yaitu makruh (karahah tanzih), haram (karahah tahrim), makruh cukur rambut tapi tidak makruh potong kuku, bukan makruh tapi khilaful aula, dan tidak makruh kecuali bila telah masuk sepuluh hari dan berniat untuk menyembelih.
a. Mazhab Al-Hanafiyah
Dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah tegas mengatakan bahwa tidak ada dasar kesunnahannya untuk melarang orang yang menyembelih hewan udhiyah itu memotong rambut dan kuku.
Alasannya karena orang yang ingin menyembelih hewan qurban tidak diharamkan untuk berpakaian biasa dan berjima’. Adapun hadits di atas, menurut mazhab ini merupakan ketentuan bagi mereka yang berihram saja, baik ihram karena haji atau umrah.
Sedangkan mereka yang tidak dalam keadaan berihram, tidak ada ketentuan untuk meninggalkan cukup rambut dan potong kuku.
b. Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah
Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah menyebutkan bahwa hukumnya sunnah, maksudnya disunnahkan untuk tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku sampai selesai penyembelihan.
Asy-Syairazi (w. 476 H) dari kalangan mazhab Asy-syafi’iyah dalam matan Al-Muhazzab menyebutkan :
ولا يجب عليه ذلك لأنه ليس بمحرم فلا يحرم عليه حلق الشعر ولا تقليم الظفر
Dan hal itu bukan kewajiban, karena dia tidak dalam keadaan ihram. Maka tidak menjadi haram untuk memotong rambut dan kuku. (Asy-Syairazi, Al-Muhazzab, jilid 1 hal. 433)
Kedua mazhab ini menyimpulkan bahwa hadits Ummu Salamah di atas bukan sebagai larangan yang bersifat haram (karahatu at-tahrim), melainkan sebagai larangan yang bersifat makruh (karahatu at-tanzih).
Selain itu yang membuat mahzhab ini tidak mewajibkan, karena ada hadits lain yang membolehkan atau tidak mengharamkan potong kuku dan rambut, yaitu haditsdari Aisyah yang menguatkan bahwa larangan Nabi SAW bukan bersifat keharaman.
كُنْتُ أَفْتِلُ قَلاَئِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللهِ ثُمَّ يُقَلِّدُهاَ بِيَدِهِ ثُمَّ يَبْعَثُ بِهَا وَلاَ يُحْرِمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللهُ لَهُ حَتىَّ يَنْحَرَ الهَدْيَ
Dari Aisyah radhiyallahuanha, beliau berkata,”Aku pernah menganyam tali kalung hewan udhiyah Rasulullah SAW, kemudian beliau mengikatkannya dengan tangannya dan mengirimkannya dan beliau tidak berihram (mengharamkan sesuatu) atas apa-apa yang dihalalkan Allah SWT, hingga beliau menyembelihnya,” (HR. Bukhari Muslim).
c. Mazhab Al-Hanabilah
Sedangkan mazhab Al-Hanabilah mengatakan hukumnya wajib, maksudnya wajib menjaga diri untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku.
Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah dari tidak mencukur rambut dan memotong kuku adalah agar seluruh bagian tubuh itu tetap mendapatkan kekebalan dari api neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudnya biar ada kemiripan dengan jamaah haji.
Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah berargumentasi bahwa orang yang mau menyembelih hewan udhiyah tidak dilarang dari melakukan jima’ atau memakai pakaian, maka tidak ada larangan atasnya untuk bercukur maupun memotong kuku. []
Sumber: rumahfiqih.com

Biarkan obor harapan terus menyala

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Image result for yusuf a.s story

by ustazah maznah daud
Mari sama-sama kita renungi kisah Nabi Yusuf a.s. yang diceritakan di dalam al-Quran. Siapa yang ceritakan kepada kita? Allah Yang Maha Mengetahui segala-galanya. Ia bukan rekaan, bukan sesuatu yang diada-adakan. Ia suatu kisah kehidupan yang benar-benar berlaku. Diceritakan sebagai iktibar dan pengajaran sepanjang zaman.
Nabi Yusuf a.s., abang-abangnya mahu membunuhnya semasa dia masih kecil, tetapi dia tidak mati.
Mereka mahu melenyapkan semua kesan-kesannya, tetapi Allah angkat darjatnya.
Kemudian dia dijual sebagai hamba, tetapi akhirnya dia menjadi orang yang berkuasa.
Mereka ingin hapuskan kasih sayang dari hati ayah terhadapnya, tetapi sebaliknya perasaan itu tambah mendalam.
Maka jangan risau apa yang dirancang oleh manusia untuk menyakiti kita. Sesungguhnya kehendak Allah mengatasi segala-galanya.
Lihat babak-babak yang dilalui seterusnya…
Dia dimasukkan ke dalam penjara kerana kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.
Di dalam penjara, dia merupakan ‘banduan’ terbaik sebagaimana diperakui oleh penghuninya “Sesungguhnya kami memandangmu termasuk dalam kalangan orang yang baik” (Yusuf:36)
Namun banduan lain keluar dahulu daripadanya, dan dia – walaupun baik – tetap meringkuk di dalam penjara beberapa tahun lamanya. Salah seorang temannya keluar untuk menjadi menjadi khadam, seorang lagi keluar untuk dibunuh, dan dia menunggu dan menunggu…
Akhirnya dia keluar untuk menjadi seorang penguasa di Mesir, bertemu dengan kedua orang tuanya, keluarga yang terpisah bercantum semula… alangkah bahagianya!!!
Maka sesiapa yang terasa lambatnya penyelesaian tiba, maka jadikan kisah Nabi Yusus a.s. ini sebagai obor harapan yang sentiasa menyala.

bila kita mati.....

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد


Image result for innalillahiwainnailaihirojiun images
Telah meninggal dunia beberapa minggu yg lalu seorang penulis wanita dari Kuwait Nadiah al Jar rahimahallah...
Saat hampir dgn kematiannya ia menulis perkongsiannya ini di dalam buku hariannya :
"Bila kematianku tiba aku tidak bimbang dan cemas tentang jasadku yang kaku...
Kaum muslimin pastilah akan menunaikan apa apa yang sudah seharusnya mereka kerjakan... Melepaskan seluruh pakaianku... memandikanku... mengkafankanku mengeluarkanku dari rumahku... membawaku ke rumahku yang baru ( kuburku )...orang ramai akan datang menghantarku kesana...di antara mereka bahkan ada yang membatalkan aktiviti harian mereka hari itu demi pengkebumianku ini...
Seluruh milikku tidak ada satu pun yang aku bawa... kunci2ku kitab2ku... bag2ku kasut2ku... baju2ku... dan semua yang lainnya...keluargaku kata sepakat untuk menyedekahkannya agar bermanfaat bagiku...
Yakinlah... dunia tidak akan bersedih karena kematianku... alam semesta tetap akan berputar seperti biasanya... akan berlanjutan seterusnya... Pekerjaanku akan di gantikan oleh orang lain.. Harta bendaku akan menjadi warisan... Sedangkan di alam kubur semua menjadi perhitungan dan tanggung jawabku... yang banyak ataupun sedikit... bahkan yang kecil yang tak berharga sekalipun...tetap di hitung.
Hal pertama yang akan hilang seketika aku mati adalah nama yang dengannya aku dipanggil di dunia ini... sejurus aku mati mereka memanggilku dengan sebutan JASAD...waktu solat mereka menyebutku JENAZAH...ketika menguburku mereka menyebutku MAYYIT. Jelas sekali kala itu... bahwa nasabku... sukuku... status sosialku dan ketenaranku tidak berarti apa apa lagi. Sama sekali tidak layak di AGUNG AGUNG kan...
Alangkah kecil nya dunia ini dan alangkah bodohnya kita yang selama ini menganggapnya penting / besar...
Untuk kamu yang masih hidup...
Kesedihan kamu atasku dapat di bagi 3 golongan...
1. Orang2 yang hanya mengenalku biasa biasa saja akan mengasihaniku sesaat.
2. Rakan rakan akrab akan bersedih dan merasa kehilangan selama beberapa minggu...setelahnya mereka akan kembali pada kehidupannya semula.
3. Keluarga / ahlul bait... akan bersedih berbulan2... mungkin setahun... setelahnya aku pun akan tinggal sebagai kenangan...
Berakhirlah kisahku di antara manusia...
Bermulalah kisah hidup ku di ALAM AKHIRAT. Telah hilang dariku kecantikanku... hartaku...keluargaku... semuanya... inilah hidup yang sesungguhnya...
Apakah yang sudah engkau persiapkan sebagai bekal akhiratmu hari ini ?? Anda yang masih hidup ini perhatikan lah... amalan2 wajib mu... sunnah2 mu... sedekah rahsiamu...amal solehmu...mudah2 an diakhirat engkau selamat...
Bila engkau membantuku menyampaikan pesan2 ku ini sebagai peringatan sesama manusia...
Insya Allah akan engkau temukan pahala di dalam timbangan amalmu kelak di akhirat .. (وذكّر فإن الذكرى تنفعُ المؤمنين)
C&P