Sunday, June 3, 2018

Optimalkan Ramadhan di Kala Sibuk

Keutamaan Ramadhan

Alhamdulillah, sekarang kita telah bertemu dengan bulan yang Allah muliakan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Siapa yang tidak bahagia bertemu dengan bulan ini, dimana bulan ini dinamakan Syahrun mubaarakun, yang artinya bulan yang penuh dengan keberkahan, setiap amal yang kita kerjakan di dalamnya akan langsung dibalas oleh Allah, dimana Allah ta’ala berfirman melalui sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Allah ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”(HR. Muslim)

Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya, sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Hal ini menunjukkan betapa agungnya amalan puasa ini. Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menghapus berbagai macam kezaliman yang pernah dilakukan, hingga tersisalah amalan puasa. Amalan puasa ini akan disimpan oleh Allah dan akhirnya Allah memasukkan hamba tersebut ke dalam surga.” (Panduan Ramadhan, karya Muhammad Abduh Tuasikal)

Mungkin ada di antara kita yang ketika mendapati bulan yang penuh keberkahan ini didera kesibukan yang sangat padat, kuliah misalnya, bekerja full time, dan orang-orang yang memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Sebagian orang akan merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara beribadah di bulan mulia ini dan aktivitas dunia yang sangat menyibukkan. Maka, mari kita telusuri kiat-kiat jitu dalam mengatur waktu agar kita sukses menghadapi Bulan Ramadhan, dan tidak berlalu sia-sia begitu saja.

Kiat-Kiat Jitu

Menghadapi bulan yang sangat mulia ini memang membutuhkan perhatian yang lebih. Kita mesti mengumpulkan segala upaya dan tenaga agar kita menjadi hamba-Nya yang sukses di bulan ini. Bagaimana tidak, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, Allah membuka pintu kebaikan selebar-lebarnya kepada para hamba-Nya dan menutup segala pintu-pintu pemicu kemaksiatan.

Mengiringi keikhlasan di setiap amal

Ikhlas adalah salah satu dari dua syarat diterimanya ibadah. Tanpa keikhlasan, maka amalan yang susah payah dikerjakan akan hilang sia-sia. Mengikhlaskan segala amalan untuk Allah semata, dan hanya mengharap ridha-nya, serta sama sekali tidak berharap pujian manusia maupun ketenaran di tengah manusia. Maka itu, kiat ini merupakan kiat yang teramat penting dibanding kiat-kiat lainnya, dibutuhkan upaya yang sangat keras untuk mencapai derajat mukhlisin (hamba-hamba-Nya yang ikhlas).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sesuatu. Barangsiapa yang melakukan amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku, maka Ku-tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

Tanda seseorang dikatakan ikhlas ialah ketika ia memurnikan tujuan bertaqarrub hanya kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya, menjadikan Allah ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan.

Meminta pertolongan kepada Allah

Manusia adalah makhluk yang dhaif (lemah) dan penuh kekurangan. Segala ibadah yang kita kerjakan semuanya atas taufik dari Allah. Allah memberi kita kekuatan sehingga tubuh kita mampu melakukan segala aktivitas fisik, Allah memberi kita pertolongan sehingga kita mampu melakukan keta’atan kepada-Nya. Kita tidaklah berhak menyandarkan ibadah kepada diri sendiri, namun semestinya semua keta’atan yang kita kerjakan adalah buah dari pertolongan Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah, tiada daya dan upaya melainkan semua karena pertolongan dari-Nya. Allah ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”(QS. Al-Fatihah: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإذا استعنت فاستعن بالله

 “Jika Engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

 

Maka itu, sebelum mengerjakan puasa, hendaknya kita meminta pertolongan dari-Nya agar puasa yang kita lakukan menuai keberkahan dan ketakwaan di tengah kesibukan yang sedang kita hadapi.

Membuat jadwal harian

Adanya jadwal sangat penting bagi orang-orang yang padat dengan aktivitas dan kesibukan yang sangat menyita waktu. Hendaknya, kita menyediakan buku kecil yang hanya khusus digunakan untuk membuat rancangan agenda harian yang akan kita kerjakan. Baiknya, jadwal agenda dibuat saat sebelum beraktivitas, bisa saat malam hari ketika kita memiliki waktu luang. Buku agenda tersebut hendaknya kita bawa kemana pun kita beraktivitas, setelah kita menyelesaikan satu demi satu aktivitas yang tertera di buku tersebut, maka kita coret setiap agenda yang telah dilaksanakan, hal ini bisa memicu semangat untuk menyelesaikan setiap rancangan agenda yang dibuat.

Perlu diketahui, bahwa tidak semua agenda yang kita rancang mesti dilaksanakan tanpa adanya urutan yang berlaku. Setiap aktivitas yang hendak kita kerjakan, baiknya dikelompokkan ke dalam aktivitas yang sangat penting, penting, dan tidak terlalu penting. Fokus utama kegiatan kita secara berurutan adalah dari yang ‘sangat penting’, ‘kemudian penting’, dan kemudian ‘tidak terlalu penting’.

Menyediakan mushaf ukuran saku agar mudah dibawa kemana pun pergi

Puasa adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Banyak para ulama memfokuskan ibadah tilawah Al-Qur’an ketika memasukki bulan yang mulia ini. Mereka menyingkirkan segala aktivitas keduniaan, dan lebih memperbanyak membaca Al-Qur’an dibanding bulan-bulan sebelumnya. Untuk memudahkan orang-orang yang memiliki jam terbang tinggi, artinya kesehariannya dipadati dengan aktivitas. Maka, ada baiknya membawa Al-Qur’an ukuran saku, agar ketika berpergian mudah dibawa kemana-mana, dan setiap saat bisa membaca Al-Qur’an. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah hendaknya ketika membaca Al-Qur’an diiringi dengan tadabbur di setiap ayat yang telah kita baca. Jika kita belum terlalu menguasai bahasa Arab, maka kita bisa membaca minimal arti ayat-ayat tersebut, sehingga bisa kita renungkan. Membaca terjemahan dapat dilakukan di malam hari ketika kita sedang beristirahat.

Membasahi lisan dengan dzikir

Ketika kita beraktivitas mungkin akan sering berpergian baik itu dengan kendaraan atau dengan berjalan. Ketika ada waktu senggang meskipun sedikit, hendaknya kita membasahi lisan agar senantiasa berdzikir kepada Allah. Agar waktu yang terlewati tidak berlalu sia-sia, namun dapat mendatangkan banyak pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku perintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah, karena perumpamaannya seperti seorang laki-laki yang dikejar-kejar musuh dengan cepat, hingga ia sampai masuk ke sebuah benteng perlindungan. Di benteng itulah ia dapat menjada dirinya dari musuh. Seperti itulah seorang hamba menjaga dirinya dari gangguan setan dengan dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Terdapat riwayat dimana ibadah dzikir merupakan ibadah yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamketika ditanya amal apa yang paling dicintai oleh Allah, maka beliau bersabda: “Bahwa engkau meninggal, sedangkan lisanmu basah dengan dzikir kepada Allah ta’ala.”

Menghindari dari banyak bergaul dengan orang-orang yang sering membuat lalai

Bergaul dengan orang-orang yang dapat menyebabkan lalai adalah salah satu tanda kesia-siaan. Pergaulan dengan mereka sedikit pun tidak mendatangkan keuntungan untuk akhirat, namun bisa sebaliknya dapat membinasakan ke dalam jurang kemaksiatan, sehingga puasa berlalu tanpa keta’atan, namun dengan dosa akibat kemaksiatan. Hendaknya kita bergaul seperlunya saja untuk menyelesaikan sebagian dari urusan dunia.

Ketika ada waktu-waktu yang kosong, baiknya kita gunakan untuk menyelesaikan ibadah harian yang telah kita agendakan, agar waktu yang telah kita lalui dapat termanfaatkan secara maksimal.

 

Demikianlah sedikit tips untuk memanfaatkan waktu se-efektif dan se-efisien mungkin di tengah waktu yang sangat padat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar kita mampu menjadi orang yang sukses di bulan Ramadhan.

Penulis: Ade Safitri

Artikel Muslimah.or.id





















Friday, May 25, 2018

Rabb kami ialah Allah

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Image result for allahumma anta robbuna farzuqnal istiqomah
Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
“Rabb kami ialah Allah”
kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
[QS. Fushilat: 30]
Lalu ia pun berdo’a,
“Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqamah”
Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqamahan pada kami.
[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 245]
Ketika kita ingin berjalan di jalan yang lurus dan memenuhi tuntutan istiqomah, terkadang kita tergelincir dan tidak bisa istiqomah secara utuh. Lantas apa yang bisa menutupi kekurangan ini? Jawabnnya adalah pada firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6).
Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).” #tadabburdaily

Monday, May 21, 2018

Silap tuuuu

Mengikut kajian kesilapan besar dalam berpuasa;
.
1. Menghimpunkan makan malam dengan berbuka puasa adalah kesilapan. Nabi buka puasa dgn 3 biji kurma dan air kosong. Sebab buka puasa bukan untuk perut tetapi untuk beri tenaga kepada hypothalamus (otak dalam otak). Satu cara elakkan hidang makan malam didepan semasa berbuka. hypothalamus yang keletihan berfungsi sepanjang hari akan tidak berfungsi dengan betul sekiranya makanan masuk dgn banyak semasa berbuka. Ianya menyebabkan masalah serius kesihatan.
.
Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang berbuka puasa, maka berbukalah dengan buah kurma. Sekiranya tiada kurma, maka minumlah air kerana ia suci.” (Riwayat al-Tirmizi)

*Kajian saintifik terbukti menunjukkan kurma membekalkan sumber tenaga segera kepada manusia, bahkan mengawal pemakanan agar tidak berlebihan kerana rasa letih dan kelaparan sudah berkurang dengan ketara.
.
2. Jangan window shopping ke bazar ramadhan. Ia akan mengganggu fungsi kawalan hypothalamus . Ianya menyebabkan kita hilang pertimbangan untuk terus membeli makanan yang kita tidak perlu. Apabila kita lapar kita mudah terpengaruh untuk membeli banyak. Ia akan mengakibatkan pembaziran.
.
3. Jangan lewatkan solat maghrib.
– Makanan yang dimakan menghasilkan tenaga untuk diagihkan keseluruhan tubuh melalui sel. 1 kilo berat badan mempunyai 10000 trilion sel. Tenaga ini perlu ditolak oleh tenaga yang dilakukan oleh solat yang disegerakan.
.
4. Selepas solat maghrib, sel sudah dapat tenaga. Boleh terus makan malam. Fully auto kita akan makan secara baik. Jangan lebih lima jenis makanan dalam satu hidangan. Nasi, lauk, sayur, buah dan air.
.
5. Selepas makan malam, sangat baik kita MANDI dengan air sejuk. Jangan pakai heater. Jangan risau mandi malam dgn paru2 berair. DONGENG.
.
6. Selepas mandi, sebelum pegi solat isyak minum setengah cawan air campuran 3 biji kurma, satu sudu teh madu lebah dan susu segar yg dikisar.
.
7. Pergi Solat Isyak berjemaah di surau atau masjid di awal waktu. sebaik-baiknya 15 minit awal sebelum masuk waktu isyak. Lps tu sembahyang terawih solat dengan perlahan dan santai. Tenang dan jangan gopoh gapah.

8. Pastikan ringan ambil moreh. Makan selepas pukul 10.30 adalah kemudharatan yg besar. Masa ini tenaga sdh cukup penuh dalam badan. Masa tu aktiviti terbaik adalah tadarrus minima 1 helai. Masa ini tenaga akan bawa input terbaik kedalam otak dan hati. Kalau masa ini diisi dgn aktiviti atau info yang lalai, maka otak dan hati akan merakam perkara yg kita isi dan boleh menjadi pegangan kita seterusnya
.
9. Selepas itu sebaiknya tidur sebelum pkl 12 mlm utk rehat. Jangan pasang lampu semasa tidur kerana pasang lampu menyebabkan anda tidur tidak nyenyak.
.
10. Selepas itu bangun pukul 3 utk qiamullail. Sunat kejutkan ahli keluarga dgn renjis air sejuk dgn ujung jari. Boleh mandi. tiada masalah kesihatan.
.
11. Sempurnakan 13 rakaat solat. Sunat wuduk, taubat, tahajjud, hajat dan witir. Kalau tak mampu 2 rakaat pun dah cukup. Yang penting ialah biar sikit tapi istiqamah.
.
12. Selepas qiam, boleh tidur tetapi ringankan seperempat.
.
13. Sahur. Lewatkan sahur iaitu 1 jam sebelum subuh. Sahur itu ade keberkatan. boleh refer hadith.
Sebaik2 sahur adalah seperlapanbelas dari makan malam iaitu lebihan makan malam. Lewatkan masa masak utk elak cepat basi. Lebihkan masak masa mkn malam, jgn campur garam dan simpan sikit untuk sahur. Bila nak sahur panaskan dan baru campur garam.
.
14. Selepas sahur, terus solat subuh berjemaah di masjid. Datang awal 15 minit dan boleh solat sunat Subuh iaitu lebih baik dari seluruh isi dunia. boleh refer hadith.
.
15. Jangan tidur selepas subuh kerana gangguan kepada hypothalamus. Ia akan menyebabkan masalah kesihatan.
.
16. Tidur qailullah ( 30-60 minit sebelum zohor). 1 minit waktu ini menyamai tenaga tidur sejam waktu biasa.
.
Cara makan kurma….60% kebaikan berada pada selaput permukaan luar kurma. Masukkan sebiji buah kurma dan last sekali keluar biji. Jangan kupas di luar. Kurma terbaik ada 4 jenis ajwa, mabrom, sapawi dan medjoul
.
Puasa adalah ibadah bertakwa kepada ALLAH swt . Ia juga detoksifikasi. Ia berlaku apabila fungsi proses makanan dlm perut berehat lebih dari 8 jam.
.
Semoga bermanfaat
.
Sumber Bahagian Dakwah Jakim