Thursday, August 20, 2026

Kenapa kita solat?

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Kenapa kita solat?
Kenapa lima kali sehari?

Kenapa Subuh?

Kemudian beberapa jam lepas itu Zuhur.

Petang datang... solat Asar.

Matahari tenggelam...Maghrib pula.

Dan sebelum hari berakhir, solat Isyak.

.

Dr. Omar Suleiman kupas tentang ini.

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan distraction.

Bangun pagi sahaja, perhatian sudah ditarik ke macam-macam arah.

Anak.
Kerja.
WhatsApp.
Email.
Berita.
Bil.
Meeting.
Media sosial.

Masalah semalam pun ada yang ikut bangun sekali. 😁

Beberapa jam sahaja sudah cukup untuk memenuhi kepala.

Kita bergerak dari satu urusan kepada satu urusan.

Sibuk, sampai sesekali terlupa
Ke mana destinasi aku?

.

Dr. Omar memberikan satu analogi yang saya suka.

Sebagaimana puasa mengosongkan perut untuk memberi ruang kepada jiwa, 
solat mengosongkan jadual kita untuk memberi ruang kepada hati.

Ada waktunya kita perlu berhenti.

Letak telefon.

Tinggalkan kerja sekejap.

Ambil wuduk.

Berdiri menghadap kiblat.
Allahu Akbar.

Beberapa minit itu, 
perhatian yang sejak tadi berpecah dikumpulkan semula.

Di tengah dunia yang menarik kita ke seribu arah, 
kita kembali menghadap satu arah.

Allah.

.

Ibarat seorang musafir yang berjalan jauh dengan kompas.

Dia tahu destinasinya.

Tetapi sepanjang perjalanan ada banyak simpang.

Ada jalan yang menarik perhatian.
Ada tempat yang membuatkan dia berhenti lama.

Sesekali dia perlu melihat semula kompas untuk memastikan langkahnya masih menuju ke destinasi.

Solat melakukan sesuatu seperti itu kepada hati.

Re-alignment.

Solat Subuh sebelum kita masuk ke dalam kesibukan hari.

Solat Zuhur ketika dunia sudah mula memenuhi kepala.

Solat Asar ketika tenaga semakin berkurang.

Solat Maghrib ketika siang berakhir.

Solag Isyak sebelum kita menutup mata.

Lima waktu yang memecahkan perjalanan dunia kita kepada beberapa ruang untuk kembali kepada Allah.

.

Ketika kita berdiri untuk solat, 
perkataan pertama yang keluar daripada mulut ialah...

Allahu Akbar.
Allah Maha besar.

Segala yang terasa begitu besar sejak pagi tadi diletakkan semula pada tempatnya.

Deadline masih penting.

Masalah masih perlu diselesaikan.

Tanggungjawab masih menunggu.

Dan di atas semuanya,
Allah lebih besar.

.

Ungkapan Rasulullah SAW kepada Bilal:

أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

“Berikanlah kami kerehatan dengannya, wahai Bilal.”

Indah bila solat menjadi ruang seperti ini.

Kepala sudah penuh.

Emosi mungkin sudah berserabut.

Kita ambil beberapa minit untuk berdiri, rukuk dan sujud.

Kemudian sambung semula kehidupan.

Sebab itu lima waktu tepat untuk manusia.

Kita mudah distracted.

Beban dunia kadang membebani dada.

Masalah terasa segala-galanya.
Kerja terasa segala-galanya.
Apa yang kita mahu terasa segala-galanya.

Kemudian datang waktu solat.

Allahu Akbar.

Dua perkataan yang menyusun semula perspektif.

Lima kali sehari, 
Allah memberikan ruang untuk hati kita re-align.

Supaya dalam sibuk mengejar macam-macam perkara,
kita masih ingat ke mana sebenarnya perjalanan ini sedang tuju.

#kuliahdromarsuleiman
#solat5waktu
#kenapasolat

Tuesday, August 18, 2026

Twelve Principles of Happiness from the Qur’an and Su

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Twelve Principles of Happiness from the Qur’an and Sunnah 

Happiness in Islam is not found in having a life free from difficulty. It is found in knowing how to live through every difficulty with Allah.

These twelve principles, rooted in the Qur’an and Sunnah, are reminders we all need—not once, but repeatedly throughout our lives.

1. Live within the boundaries of today.
Do not burden your heart with a tomorrow that has not yet arrived. Live the day Allah has given you and entrust tomorrow to Him.

The Prophet ﷺ said:
“When you reach the evening, do not expect to live until the morning, and when you reach the morning, do not expect to live until the evening.”
(Sahih al-Bukhari)

2. When your heart cannot find rest, return to the remembrance of Allah.
You can search the world for peace, but the heart was created to find its deepest tranquillity with its Creator.

“Surely, in the remembrance of Allah do hearts find rest.”
(Qur’an, 13:28)

3. Let sincere advice refine you, even when it is difficult to hear.
Not every criticism is an attack. Sometimes the words that hurt our ego are the very words that help us grow. Receive sincere advice with humility and use it to become better.

The Prophet ﷺ taught that when a Muslim seeks your advice, you should sincerely advise him.
(Sahih Muslim)

4. Remember: being loved by Allah does not mean being free from trials.
Trials are not necessarily signs that Allah has abandoned you. Sometimes they are signs of His love, purification, elevation, and care.

The Prophet ﷺ said:
“The greater the reward, the greater the trial. When Allah loves a people, He tests them.”
(Jamiʿ al-Tirmidhi)

5. Do good without waiting for people to thank you.

If your intention is Allah, then people’s appreciation is no longer the measure of your reward.

Allah describes the righteous as saying:
“We only feed you for the sake of Allah. We do not want from you any reward or thanks.”
(Qur’an, 76:9)

Do the good. Let Allah take care of the gratitude.

6. Do not allow fear of what might happen to steal the peace of what is happening.
Shaytan magnifies fears, fills the mind with possibilities, and makes the unknown appear inevitable.

Allah says:
“It is only Satan who frightens you of his supporters…”
(Qur’an, 3:175)

Not every fear deserves your attention. Not every possibility deserves your anxiety.

7. Never underestimate the vastness of Allah’s forgiveness.
Your sins may feel enormous to you, but Allah’s mercy is greater.

Allah says:
“Your Lord is vast in forgiveness.”
(Qur’an, 53:32)

Never allow your past to convince you that you have no future with Allah.

8. For the believer, every decree can ultimately become a source of goodness.
The believer does not lose—even when life appears to take something away.

The Messenger of Allah ﷺ said:
“How wonderful is the affair of the believer! Indeed, all of his affair is good for him…”
(Sahih Muslim)

When blessings come, he is grateful. When hardship comes, he is patient. In both states, he draws closer to Allah.

9. Your Rizq is not in the hands of people.
People may be a means, but they are never the ultimate Provider.

Allah says:
“And in the heaven is your provision and whatever you are promised.”
(Qur’an, 51:22)

What Allah has written for you will reach you. So work hard, take the means, but place your reliance upon the One who provides.

10. Do not become comfortable with wasting the hours Allah has given you.

A life of constant busyness is not necessarily productive—but purposeful use of your time is one of the greatest gifts you can cultivate.

Allah says:
“So when you have finished, then strive hard.”
(Qur’an, 94:7)

Do not allow empty time to become an invitation for heedlessness. Fill your hours with what benefits your Dunya and your Ākhirah.

11. Release resentment from your heart before it consumes you.

Holding hatred against someone can imprison you long after they have moved on.

Ask Allah to remove rancour from your heart. The Prophet ﷺ taught us to seek purification of the heart and to forgive.

Your peace is too valuable to surrender to resentment.

12. True happiness is rooted in Īmān and righteous action.

The Qur’an gives us one of the clearest descriptions of a good life:

“Whoever does righteousness, whether male or female, while being a believer, We will surely cause them to live a good life.”
(Qur’an, 16:97)

Happiness is not ultimately found in wealth, status, possessions, or the absence of hardship.

It is found in knowing Allah, believing in Him, obeying Him, remembering Him, trusting Him, and returning to Him in every circumstance.

You do not need to memorise all twelve.

But keep them close.

Keep them where you can return to them when your heart becomes heavy, when fear begins to overwhelm you, when people disappoint you, when trials arrive, and when you forget what truly matters.

Because these are not merely principles to read once.

They are reminders we may need several times a day.

Monday, August 17, 2026

Jangan Biarkan Takut Kehilangan Menguasai Jiwa

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محم

Jangan Biarkan Takut Kehilangan Menguasai Jiwa

Ada orang kedekut kerana dia sayang duit.

Namun ada penyakit yang lebih dalam daripada kedekut.

Nabi ﷺ memberi amaran:

“Jauhilah al-shuḥḥ, kerana al-shuḥḥ telah membinasakan orang sebelum kamu. Ia mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan.”
Riwayat Muslim.

Bagaimana sifat kedekut boleh sampai menyebabkan pertumpahan darah?

Rupanya perkataan yang digunakan oleh Nabi bukan sekadar bukhl, iaitu enggan memberi.

Perkataannya ialah:

الشُّحّ — al-shuḥḥ.

Shuḥḥ lebih dalam.

Ia ialah keadaan apabila seseorang terlalu takut kehilangan, terlalu kuat mahu memiliki dan terlalu mementingkan kepentingan dirinya sehingga hak orang lain pun mula dirasakan sebagai ancaman.

Bukhl berkata:

“Ini aku punya. Aku tak mahu beri.”

Shuḥḥ boleh pergi lebih jauh:

“Aku mahu simpan apa yang aku ada, dan kalau perlu, aku mahu juga apa yang kamu ada.”

Di situlah penyakit jiwa boleh berubah menjadi kerosakan sistem.

Apabila takut kehilangan mula memimpin kita

Banyak kerosakan bermula dengan sesuatu yang kelihatan kecil.

Kita takut kehilangan duit.

Kita takut kehilangan jawatan.

Kita takut kehilangan pengaruh.

Kita takut orang lain menjadi lebih hebat.

Kita takut orang lain mendapat peluang yang selama ini kita miliki.

Pada peringkat awal, mungkin sekadar rasa tidak selesa.

Kemudian kita mula menahan.

Kita tidak berkongsi maklumat.

Kita tidak memberikan peluang.

Kita tidak mahu melatih pengganti.

Kita berat memberikan kredit atau pujian kepada orang lain.

Kita mahu semua keputusan melalui kita. Tak nak kongsi. Saya mahu kawal semua. 

Kita mahu nama kita terus berada di hadapan.

Sedikit demi sedikit, ketakutan kehilangan bertukar menjadi keinginan mengawal.

Dan apabila kepentingan diri menjadi terlalu besar, kita mula merasionalkan perkara yang sebelumnya kita tahu salah.

Di sinilah kita boleh memahami amaran Nabi ﷺ.

Shuḥḥ → kepentingan diri → melanggar hak → kezaliman → konflik → kehancuran.

Sebab itu dalam hadis yang sama, Nabi ﷺ terlebih dahulu mengingatkan tentang zulm, kemudian tentang shuḥḥ.

Seolah-olah kita diperlihatkan hubungan antara penyakit dalaman dengan kerosakan luaran.

Shuḥḥ boleh menjadi enjin dalaman.

Zulm menjadi hasil yang terlihat di luar.

Surah al-Hasyr memberi ubat. 

Menariknya, Allah menggunakan perkataan yang sama dalam Surah al-Hasyr ayat 9.

Allah menceritakan tentang golongan Ansar:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri mempunyai keperluan.”

Kemudian Allah menyebut:

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan sesiapa yang dipelihara daripada sifat shuḥḥ dirinya, maka merekalah orang yang berjaya.”

Perhatikan sesuatu.

Allah tidak sekadar berkata:

“Jangan jadi kedekut.”

Allah membawa kita kepada keadaan jiwa yang jauh lebih tinggi:

īthār.

Mendahulukan orang lain walaupun diri sendiri ada keperluan.

Maka terdapat dua dunia yang sangat berbeza.

Dunia pertama:

Aku takut aku kurang.

Lalu aku pegang.

Aku simpan.

Aku kawal.

Aku rebut.

Dunia kedua:

Aku yakin Allah cukupkan.

Lalu aku boleh berkongsi.

Aku boleh memberi peluang.

Aku boleh melihat orang lain berjaya. Aku boleh kongsi. Nikmat Allah kan luas. Buat apa nak kawal sangat. 

Aku boleh melahirkan pemimpin yang lebih hebat daripada aku.

Inilah perbezaan antara jiwa yang dikuasai scarcity dengan jiwa yang dibebaskan oleh iman.

Shuḥḥ bukan hanya tentang wang

Kita selalu fikir kedekut berkaitan wang.

Tetapi shuḥḥ boleh muncul dalam banyak bentuk.

Ada orang tidak kedekut duit tetapi kedekut ilmu.

Dia tahu sesuatu, tetapi tidak mahu mengajar kerana takut orang lain menjadi pesaing.

Ada orang kedekut peluang.

Dia boleh membuka pintu untuk orang lain tetapi memilih untuk tidak melakukannya.

Ada orang kedekut penghargaan.

Susah sekali menyebut:

“Ini hasil kerja dia.”

Ada orang kedekut kuasa.

Organisasi semakin besar tetapi semua keputusan masih mesti melalui dirinya.

Ada orang kedekut pentas.

Dia mahu bercakap, tetapi tidak mahu memberikan ruang kepada generasi selepasnya.

Akar masalahnya boleh sama:

“Kalau aku beri, apa yang tinggal untuk aku?”

Itulah suara shuḥḥ.

Masalah sebenar ialah rasa aman

Sebab itu mengatasi shuḥḥ bukan sekadar belajar teknik generosity. Suka memberi. 

Ia kembali kepada persoalan iman.

Siapa yang kita percaya memberi rezeki?

Siapa yang memberi peluang?

Siapa yang mengangkat seseorang?

Siapa yang menentukan masa depan kita?

Jika hati merasakan:

“Semua bergantung kepada apa yang berada dalam tangan aku,”

kita akan semakin kuat menggenggam.

Tetapi apabila kita benar-benar memahami bahawa Allah ialah sumber rezeki, peluang dan pertolongan, tangan menjadi lebih mudah terbuka.

Kita mula sedar:

Apa yang kita lepaskan kerana Allah tidak mengurangkan apa yang Allah mampu berikan kepada kita.

Inilah perubahan daripada scarcity kepada tawakkal.

Ujian sebenar seorang pemimpin

Salah satu ujian terbesar seorang pemimpin bukan ketika organisasi kecil.

Ujian sebenar muncul apabila organisasi mula berjaya.

Ada lebih banyak duit.

Ada lebih banyak pengaruh.

Ada lebih banyak peluang.

Ada lebih ramai orang berbakat.

Ketika itu timbul satu soalan:

Adakah kita mahu membesarkan misi, atau kita sebenarnya mahu membesarkan diri?

Pemimpin yang dikuasai shuḥḥ akan cuba menjadikan dirinya pusat sistem.

Pemimpin yang dibebaskan daripada shuḥḥ akan membina sistem yang terus hidup walaupun tanpa dirinya.

Dia berkongsi ilmu.

Dia membina pengganti.

Dia memberikan peluang.

Dia gembira apabila orang bawahannya menjadi lebih hebat.

Kerana matlamatnya bukan mempertahankan kedudukan.

Matlamatnya ialah memastikan amanah terus berjalan.

Dari shuḥḥ kepada īthār

Surah al-Hasyr memberi kita perjalanan yang sangat indah.

Mahabbah.

Kita belajar mencintai orang lain.

Kemudian:

kelapangan dada.

Kita tidak resah melihat orang lain menerima kelebihan.

Kemudian:

īthār.

Kita sanggup memberikan sesuatu walaupun diri sendiri memerlukannya.

Kemudian:

bebas daripada shuḥḥ.

Dan akhirnya Allah menyebut:

فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Merekalah orang-orang yang berjaya.”

Mungkin selama ini kita fikir kejayaan ialah apabila kita berjaya mengumpulkan semakin banyak.

Tetapi al-Quran memberikan satu ukuran yang sangat berbeza.

Kejayaan terbesar ialah apabila hati kita sudah tidak lagi dikuasai oleh ketakutan kehilangan.

Kita masih memiliki harta.

Kita masih mempunyai jawatan.

Kita masih mempunyai pengaruh.

Tetapi semuanya berada di tangan.

Bukan di hati.

Dan apabila misi memerlukan kita melepaskannya, kita mampu melepaskan.

Itulah kebebasan.

Itulah īthār.

Itulah antara jalan menuju al-falāḥ.

Soalan untuk diri

Apakah perkara yang paling saya takut kehilangan?

Wang?

Jawatan?

Nama?

Pengaruh?

Pelanggan?

Peluang?

Kawalan?

Keluarga? 

Dan satu soalan yang lebih sukar:

Adakah ketakutan itu sedang menyebabkan saya menahan sesuatu yang sebenarnya menjadi hak, peluang atau manfaat untuk orang lain?

Kadang-kadang shuḥḥ tidak kelihatan seperti kedekut.

Kadang-kadang ia memakai pakaian “strategi”, “keselamatan”, “kepentingan organisasi” atau “saya lebih tahu”.

Sebab itu Nabi ﷺ tidak berkata sekadar:

“Jangan kedekut.”

Baginda berkata:

وَاتَّقُوا الشُّحَّ

Berwaspadalah terhadap shuḥḥ.

Kerana penyakit yang tidak kita sedari sedang menguasai hati boleh suatu hari nanti menguasai seluruh sistem kehidupan kita.