Saturday, November 18, 2017

cerita tak masuk akal

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Seorang ayah pergi merantau ke luar negara untuk mencari rezeki meninggalkan seorang isteri dan tiga orang anak. Dia seorang yang penyayang dan sangat dikasihi dan dihormati pula oleh ahli keluarganya.
Setelah keadaannya di rantau orang agak stabil, dia menghantar surat pertama kepada keluarganya. Mereka sangat gembira menerima surat yang sungguh bermakna dari seorang ayah yang sangat dikasihi dan disayangi. Sampul surat itu ditenung berulang kali. Masing-masing memeluk dan mengucup surat tersebut bagai tidak mahu dilepaskan. Kemudian surat yang berharga itu disimpan di dalam pembalut sutera yang indah. Sekali sekala surat itu dikeluarkan dari pembalutnya untuk dibersihkan daripada debu dan habuk. Kemudian meletakkan kembali di dalam pembalutnya.
Kemudian tiba pula surat kedua, ketiga dan seterusnya. Semuanya disimpan dan dijaga rapi seperti surat pertama.
Beberapa tahun berlalu…
Tibalah masa untuk si ayah pulang menemui keluarga tercinta. Alangkah terkejutnya dia apabila mendapati tiada seorangpun yang tinggal kecuali anak bongsunya. Dengan cemas dia bertanya:
- Mana ibumu?
- Ibu ditimpa sakit yang amat teruk. Kami tidak ada wang untuk membiayai rawatannya sehingga akhirnya dia meninggal dunia.
- Kenapa begitu? Apakah kamu tidak membuka suratku yang pertama? Di dalamnya terkandung sejumlah wang yang banyak untuk perbelanjaan kamu?
- Tidak!
- Di mana pula abangmu?
- Dia telah terpengaruh dengan kawan-kawan sebaya yang jahat. Selepas kematian ibu, tidak ada siapa yang mampu menasihatinya. Sekarang dia sudah jadi sebahagian daripada mereka.
- (Ayah semakin hairan) Kenapa begitu? Aku telah tulis dengan panjang lebar menasihati kamu agar berhati-hati memilih kawan. Jangan berkawan dengan orang jahat kerana lama kelamaan kita juga akan jadi jahat! Aku juga meminta agar abangmu itu mengikut aku di rantau orang. Apakah kamu tidak membaca suratku?
- Tidak!
- لا حول ولا قوة إلا بالله
- Kakakmu di mana?
- Dia pernah tulis surat kepada ayah meminta nasihat tentang seorang pemuda yang melamarnya. Sekarang dia telah berkawin dengan pemuda itu. Tapi malangnya dia tidak bahagia. Hidupnya menderita didera sepanjang masa lahir dan batin.
- Bukankah aku telah jawab surat itu menasihatinya agar jangan terima lamaran pemuda itu? Aku telah ingatkan, jangan pillih pasangan berdasarkan harta dan kedudukan. Tapi pilihlah berdasarkan agama, akhlak dan keturunan! Kamu tidak baca semua surat-suratku?
- Tidak! Kami simpan surat-surat ayah di dalam pembalut sutera yang cantik, kami usap dan cium surat itu sebagai tanda sayang dan rindu kami kepada ayah! Tetapi kami tidak membacanya…
Tidak ada siapa yang percaya akan kebenaran cerita ini. Mungkin ada yang akan berkata ia tidak masuk akal sama sekali!
Namun sedarkah kita bahawa inilah kisah benar. Kisah yang tak masuk akal inilah yang berlaku dalam kehidupan umat Islam hari ini?
Kita menerima surat dari Yang Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Memerhati lagi Maha Bijaksana. Surat yang mengandungi panduan, ajaran serta petunjuk dalam segenap bidang kehidupan. Tetapi sejauh mana kita membaca, memahami dan mengikuti panduan yang diberi?
Maka jadilah apa yang terjadi! Umat Islam mati dibunuh saban hari, di sana sini. Jenayah meningkat, keruntuhan akhlak mencemaskan di semua peringkat, wanita-wanita didera dan diperkosa tanpa mengira tua atau muda, bayi-bayi yang tidak berdosa dibuang merata-rata, dan bermacam-macam kejahatan, maksiat dan kemungkaran yang menjijikkan.
Semuanya berpunca daripada tidak membaca dan mengambil pengajaran daripada Surat yang dikirim oleh Pencipta Yang Maha Esa Yang Amat Sayang kepada makhluk-Nya!
drpd blog zaadut-taqwa.blogspot.com
18 Mac 2010

Monday, August 28, 2017

Benarkah orang yang akan berqurban haram memotong rambut dan kukunya?

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Related image

TANYA: Benarkah orang yang akan berqurban haram memotong rambut dan kukunya?
JAWAB: Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
Yang dimaksud dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainnya.
Larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara cukur, memotong, mencabut, membakar, mengambil dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, rambut kemaluan, rambut kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan.
Dasar ketentuan bagi penyembelih hewan udhiyah untuk tidak mencukur rambut atau memotong kuku, adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الحِجَّة وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Bila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan seseorang di antara kalian ingin berqurban, maka jagalah rambut dan kuku-kukunya,” (HR. Muslim).
Selain hadits di atas, juga ada hadits shahih riwayat Muslim lainnya, yang datang dengan redaksi dan lewat jalur yang berbeda, namun materinya masih sejalan.
إِذَا دَخَل الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا
Dari Ummu Salamah Ibnuda Mukminin radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila telah memasuki hari yang sepuluh dan seseorang ingin berqurban, maka janganlah dia ganggu rambut qurbannya dan kulitnya,” (HR. Muslim).
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَأَهَلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ‏
Dari Ummu Salamah Ibunda Mukminin radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang punya hewan untuk disembelih (sebagai qurban), lalu datanglah hilal bulan Dzulhijjah, hendaknya jangan mengambil dari rambut dan kukunya sedikit pun, hingga selesai menyembelih,” (HR. Abu Daud).
Namun sebenarnya para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, apakah hadits di atas itu menjadi dasar masyru’iyah atau tidak? Dan kalau menjadi dasar masyru’iyah, mereka berbeda apakah hukumnya memang sunnah atau kewajiban?
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Al-Majmu’ bahwa setidaknya adalah lima pendapat yang berbeda, yaitu makruh (karahah tanzih), haram (karahah tahrim), makruh cukur rambut tapi tidak makruh potong kuku, bukan makruh tapi khilaful aula, dan tidak makruh kecuali bila telah masuk sepuluh hari dan berniat untuk menyembelih.
a. Mazhab Al-Hanafiyah
Dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah tegas mengatakan bahwa tidak ada dasar kesunnahannya untuk melarang orang yang menyembelih hewan udhiyah itu memotong rambut dan kuku.
Alasannya karena orang yang ingin menyembelih hewan qurban tidak diharamkan untuk berpakaian biasa dan berjima’. Adapun hadits di atas, menurut mazhab ini merupakan ketentuan bagi mereka yang berihram saja, baik ihram karena haji atau umrah.
Sedangkan mereka yang tidak dalam keadaan berihram, tidak ada ketentuan untuk meninggalkan cukup rambut dan potong kuku.
b. Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah
Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah menyebutkan bahwa hukumnya sunnah, maksudnya disunnahkan untuk tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku sampai selesai penyembelihan.
Asy-Syairazi (w. 476 H) dari kalangan mazhab Asy-syafi’iyah dalam matan Al-Muhazzab menyebutkan :
ولا يجب عليه ذلك لأنه ليس بمحرم فلا يحرم عليه حلق الشعر ولا تقليم الظفر
Dan hal itu bukan kewajiban, karena dia tidak dalam keadaan ihram. Maka tidak menjadi haram untuk memotong rambut dan kuku. (Asy-Syairazi, Al-Muhazzab, jilid 1 hal. 433)
Kedua mazhab ini menyimpulkan bahwa hadits Ummu Salamah di atas bukan sebagai larangan yang bersifat haram (karahatu at-tahrim), melainkan sebagai larangan yang bersifat makruh (karahatu at-tanzih).
Selain itu yang membuat mahzhab ini tidak mewajibkan, karena ada hadits lain yang membolehkan atau tidak mengharamkan potong kuku dan rambut, yaitu haditsdari Aisyah yang menguatkan bahwa larangan Nabi SAW bukan bersifat keharaman.
كُنْتُ أَفْتِلُ قَلاَئِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللهِ ثُمَّ يُقَلِّدُهاَ بِيَدِهِ ثُمَّ يَبْعَثُ بِهَا وَلاَ يُحْرِمُ عَلَيْهِ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللهُ لَهُ حَتىَّ يَنْحَرَ الهَدْيَ
Dari Aisyah radhiyallahuanha, beliau berkata,”Aku pernah menganyam tali kalung hewan udhiyah Rasulullah SAW, kemudian beliau mengikatkannya dengan tangannya dan mengirimkannya dan beliau tidak berihram (mengharamkan sesuatu) atas apa-apa yang dihalalkan Allah SWT, hingga beliau menyembelihnya,” (HR. Bukhari Muslim).
c. Mazhab Al-Hanabilah
Sedangkan mazhab Al-Hanabilah mengatakan hukumnya wajib, maksudnya wajib menjaga diri untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku.
Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah dari tidak mencukur rambut dan memotong kuku adalah agar seluruh bagian tubuh itu tetap mendapatkan kekebalan dari api neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudnya biar ada kemiripan dengan jamaah haji.
Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah berargumentasi bahwa orang yang mau menyembelih hewan udhiyah tidak dilarang dari melakukan jima’ atau memakai pakaian, maka tidak ada larangan atasnya untuk bercukur maupun memotong kuku. []
Sumber: rumahfiqih.com

Biarkan obor harapan terus menyala

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد

Image result for yusuf a.s story

by ustazah maznah daud
Mari sama-sama kita renungi kisah Nabi Yusuf a.s. yang diceritakan di dalam al-Quran. Siapa yang ceritakan kepada kita? Allah Yang Maha Mengetahui segala-galanya. Ia bukan rekaan, bukan sesuatu yang diada-adakan. Ia suatu kisah kehidupan yang benar-benar berlaku. Diceritakan sebagai iktibar dan pengajaran sepanjang zaman.
Nabi Yusuf a.s., abang-abangnya mahu membunuhnya semasa dia masih kecil, tetapi dia tidak mati.
Mereka mahu melenyapkan semua kesan-kesannya, tetapi Allah angkat darjatnya.
Kemudian dia dijual sebagai hamba, tetapi akhirnya dia menjadi orang yang berkuasa.
Mereka ingin hapuskan kasih sayang dari hati ayah terhadapnya, tetapi sebaliknya perasaan itu tambah mendalam.
Maka jangan risau apa yang dirancang oleh manusia untuk menyakiti kita. Sesungguhnya kehendak Allah mengatasi segala-galanya.
Lihat babak-babak yang dilalui seterusnya…
Dia dimasukkan ke dalam penjara kerana kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.
Di dalam penjara, dia merupakan ‘banduan’ terbaik sebagaimana diperakui oleh penghuninya “Sesungguhnya kami memandangmu termasuk dalam kalangan orang yang baik” (Yusuf:36)
Namun banduan lain keluar dahulu daripadanya, dan dia – walaupun baik – tetap meringkuk di dalam penjara beberapa tahun lamanya. Salah seorang temannya keluar untuk menjadi menjadi khadam, seorang lagi keluar untuk dibunuh, dan dia menunggu dan menunggu…
Akhirnya dia keluar untuk menjadi seorang penguasa di Mesir, bertemu dengan kedua orang tuanya, keluarga yang terpisah bercantum semula… alangkah bahagianya!!!
Maka sesiapa yang terasa lambatnya penyelesaian tiba, maka jadikan kisah Nabi Yusus a.s. ini sebagai obor harapan yang sentiasa menyala.