Monday, May 11, 2015

BAHAYA MENGINGKARI TAKDIR

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد




BAHAYA MENGINGKARI TAKDIR
Dalam Al-Musnad dan As-Sunan dari Ibnu Ad-Dailamy, beliau ber¬kata, “Aku datang kepada Ubayy bin Ka’b seraya berkata, ‘Dalam diriku, ada suatu keraguan tentang takdir maka katakanlah suatu hadits kepadaku yang, (dengan hadits tersebut), semoga Allah menghilangkan (keraguan) itu dari hatiku.’
Maka ia berkata, ‘Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Allah tidak akan menerima (amalan) itu darimu, kecuali setelah kamu beriman kepada takdir serta meyakini bahwa segala sesuatu yang telah ditakdirkan untuk menimpamu pasti tidak akan meleset, sedang segala sesuatu yang telah ditakdirkan untuk tidak menimpamu pasti tidak akan menimpamu. Seandainya meninggal tidak di atas (keyakinan) ini, pasti kamu akan menjadi penghuni neraka.’.”
Ibnu Ad-Dailamy berkata lagi, “Lalu aku mendatangi Abdullah bin Mas’ûd, Hudzaifah bin Al-Yamân, dan Zaid bin Tsâbit. Semuanya mengatakan kepadaku hadits seperti itu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”
Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al-Hâkim dalam Shahîh-nya.125
Abdullah bin Fairûz Ad-Dailamy mengabarkan bahwa pada dirinya ada permasalahan tentang perkara takdir dan dia khawatir hal itu akan mengantarkan dia kepada penolakan terhadap takdir. Maka beliau pergi bertanya kepada para ulama dari kalangan shahabat untuk menyelesai¬kan permasalahan tersebut. Demikianlah seharusnya sikap yang harus dilakukan oleh orang yang beriman yaitu bertanya kepada para ulama tentang permasalahan yang masih belum jelas baginya, sebagai pelaksanaan firman Allah Ta’âlâ,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“… Bertanyalah kepada ahlinya kalau kalian tidak mengetahui ….” [An-Nahl: 43]
Maka semua ulama tersebut memfatwakan kepadanya tentang keharusan untuk beriman kepada qadha dan qadar, dan bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak beriman dengannya, dia termasuk sebagai penghuni neraka.
Karena pada atsar di atas terdapat penjelasan bahwa beriman kepada takdir adalah suatu keharusan, dan bahwa hal itulah yang diriwayatkan oleh para shahabat dari Nabi mereka shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Faedah Atsar
1. Ancaman keras terhadap orang yang tidak beriman kepada takdir.
2. Bertanya kepada ulama tentang perkara i’tiqâd ‘aqidah dan keyakinan’ yang belum jelas dan (perkara) lain.
3. Bahwa di antara tugas ulama adalah membongkar syubhat dan menyebarkan ilmu di kalangan manusia.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS
Post a Comment