Saturday, December 31, 2016

BUKAN TAHUN BARU, YANG PENTING DIRI BARU

بسم الله الرحمن الرحيم Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh اللهم صل على محمد وآل محمد.                              

It does not matter if we are leaving the year 2016 Common Era (CE) and moving on to the year 2017 of the Gregorian calendar. It also does not matter if this message is written at any time of the calendar year of any of the following cultures: Muslim, Hindu, Persian, Jain, Chinese, Buddhist, Javanese or Japanese.

One of history's defining moments that were related to new years took place in Andalusia or Muslim Spain. It was the handing over of Alhambra's key to the victorious Catholic monarchs (Ferdinand and Isabella) by the vanquished and last Muslim ruler of al-Andalus, Sultan Abu Abdillah Muhammad XII (known to the West as Boabdil). It took place on 2 January 1492 CE. Why didn't they seal the fate of the "Red Citadel" (al-Qala‘at al-Hamra) of Granada on new year's day of 1492? This historical Andalusian event which was witnessed by the explorer-colonialist Christopher Columbus is a clear example of the importance of dates and new year plans in military strategy.

It's undeniable that year ends and year plans are important. From personal progress into the future like weddings and business-professional commitments, to military operations like retaking lost territories and international cooperation in environmental resource management, time-related plans need to be devised. At the same time, the planners and executors must also be cognisant of possible setbacks and total failures as a result of multi-factorial causes.

Those who depend on new year resolutions and are zealous about last minute new year plans are deluded into believing that at the stroke of midnight, there is the magic of the new day that brings luck and prosperity not found in the final days of the previous year. This is a delusion, a fixed false belief, and is detrimental to the development of the human soul.

So what is real and achievable?

The daily rejuvenation of the psychospiritual self through prayers, supplication, repentance and contemplation is not only achievable but necessary. It contributes to the fortification and the enlightening of the psychospiritual self in the midst of the unpredictable and ever changing ecosocial milieu.  What good is a fortified self (against human blameworthy characteristics) if it is not enlightened by Divine light and knowledge?

While human ambition is useful to the progress of humanity, it has the risk of succumbing to blameworthy characteristics like greed, envy, lust and haughtiness. The successful self manages these satanic characteristics through years of psychospiritual labour and will not let them weigh its life plans down. The effort to constantly rejuvenate the self is a lifelong endeavour.

So eventually, it's not the new year that matters. It's the new self that counts; the self that is reformed and "born" anew, every day, through personal and congregational efforts with the permission of the Divine.

^^^^^

Tidak mengapa jika kita meninggalkan tahun 2016 Masihi (M) dan sedang bergerak ke tahun 2017 M takwim Gregorian. Tidak mengapa juga jika mesej ini ditulis pada bila-bila tahun takwim budaya-budaya berikut: Muslim, Hindu, Farsi, Jain, Cina, Buddha, Jawa dan Jepun.

Satu daripada saat-saat penentu sejarah yang berkaitan dengan tahun baru berlaku di Andalusia atau Sepanyol Islam. Ia adalah penyerahan kunci Alhambra kepada raja-raja Katolik yang menang (Ferdinand dan Isabella) oleh pemimpin Muslim terakhir al-Andalus yang kalah, Sultan Abu Abdillah Muhammad XII (dikenali di Barat sebagai Boabdil). Ia berlaku pada 2 Januari 1492 M. Mengapakah mereka tidak mengkhatamkan nasib "Benteng Kota Merah" (al-Qala‘at al-Hamra) Granada pada hari tahun baru 1492? Peristiwa Andalusia yang bersejarah ini yang disaksikan oleh pengembara-penjajah Christopher Columbus adalah contoh jelas tentang kepentingan rencana tahun baru dalam strategi tentera.

Tidak dinafikan bahawa hujung tahun dan rencana tahun adalah penting. Daripada kemajuan peribadi ke masa depan seperti walimatul-urus dan iltizam bisnes-profesional, kepada operasi tentera untuk mengambil balik wilayah yang hilang serta kerjasama antarabangsa dalam pengurusan sumber alam sekitar, rencana berhubung masa perlu dirangkakan. Pada masa yang sama, para perencana dan pelaksana mesti menyedari kemunduran dan kegagalan total yang mungkin berlaku sebagai natijah sebab-sebab pelbagai faktor.

Mereka yang bergantung kepada resolusi tahun baru dan bersemangat tentang rencana tahun baru mengalami delusi bahawa tepat pada tengah malam, magis hari baru membawa tuah dan kemakmuran yang tidak didapati dalam hari-hari akhir tahun sebelumnya. Ini adalah satu delusi, satu kepercayaan palsu yang tetap, dan merosakkan perkembangan jiwa insan.

Jadi apakah yang nyata dan boleh tercapai?

Rejuvenasi harian diri psikospiritual menerusi solat, munajat, istighfar dan tafakkur bukan saja boleh dicapai tapi perlu. Ia menyumbang kepada pembentengan dan pencerahan diri di tengah-tengah biah ekososial yang sering berubah dan tidak boleh diramal. Apakah gunanya diri yang berbenteng (melawan sifat-sifat mazmumah insan) jika ia tidak dicahayai nur dan ilmu Rabbani?

Sementara cita-cita insan berguna untuk kemajuan kemanusiaan, ia mempunyai risiko tewas kepada sifat-sifat mazmumah seperti tamak, hasad, syahwat dan takabbur. Diri yang berjaya mengendali sifat-sifat syaitaniah ini menerusi usaha psikospiritual yang bertahun-tahun tidak akan membenarkan ia membebani rencana hayatnya. Usaha untuk sentiasa merejuvenasi diri adalah satu usaha sepanjang hayat.

Maka akhirnya, bukanlah tahun baru yang penting. Diri barulah yang mustahak; diri yang diislah dan "dilahirkan" baru, setiap hari, menerusi usaha diri serta jamai dengan keizinan Rabbani.

MOHAMED HATTA SHAHAROM
President, Malaysian Society of Psychospiritual Therapy
Presiden, Persatuan Terapi Psikospiritual Malaysia
1 January 2017 CE ::: 2 Rabī‘ al-Thānī 1438 AH

(Thank you for sharing)                            
Post a Comment