Wednesday, December 26, 2012

Jom kenali Syeikhul Islam Fudhail bin Iyadh

Bismillahirrahmanirrahim. Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh




Beliau bernama Abu Ali Al-Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbu’i. Ulama yang sangat akrab dengan Masjidil Haram ini dikenali dengan nasihat-nasihatnya yang begitu menyentuh hati. Matanya memancarkan cahaya keteduhan dari kedekatannya kepada Allah swt.

Ulama yang sezaman hidupnya dengan Imam Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Abdulla
h bin Al-Mubarak ini lahir di Samarqand pada sekitar tahun 105 Hijriyah dan tumbuh dewasa di kota Abiiward, antara daerah Sarkhas dan Nasa. Setelah belajar hadis di Kufah, beliau menetap di Makkah.

Abu Ali, demikian panggilan akrab Fudhail bin Iyadh, selalu akrab dengan kawasan Masjidil Haram di Makah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masyarakat sezamannya yang ingin mendapatkan nasihat dan ilmu hadis dari beliau tidak begitu sulit mencari keberadaan beliau. Di dua tempat itulah beliau selalu berada.
Ciri khas lain dari Fudhail adalah wajahnya yang menampakkan seperti bekas menangis kerana kesedihan yang teramat dalam.

Fudhail bin Iyadh seperti digambarkan oleh Abdullah bin Al-Mubarak, “Jika aku melihat Al-Fudhail, muncul rasa sedih dalam diriku. Kesedihan yang tiba-tiba kurasakan begitu lain dari yang lain. Aku tiba-tiba seperti benci terhadap diriku sendiri. Maka saat itu juga, aku tidak bisa lagi membendung esak tangisku.”

Apabila Al-Fudhail menyebut nama Allah, atau ada seseorang yang menyebutkannya nama Allah, atau mendengar ayat-ayat suci Alquran dibacakan seseorang, maka akan terlihat perubahan wajahnya yang tiba-tiba menampakkan kesedihan. Air matanya langsung berlinang, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terharu.

Sebatang tubuh Fudhail ini memberikan sebuah cermin dan gambaran tentang kelembutan dan kejernihan hati seseorang yang terus tersentuh dengan kekhusyukan zikrullah. Hatinya begitu sensisitif dengan alunan tilawah Quran dan kekhusyukan ibadah. Tidak ada respon lain dalam dirinya kecuali esak tangis yang tidak lagi tertahan.

Seorang ulama yang bernama Ishaq bin Ibrahim Ath-Thabari pernah menuturkan. “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih memperlihatkan rasa takutnya kepada Allah dan tidak berharap sesuatu kepada manusia, selain Al-Fudhail. Ketika beliau membaca Alquran, dibacanya firman Allah itu dengan lambat, syahdu, dan begitu menyentuh hati. Seolah-olah beliau sedang berbicara dengan seseorang. Ketika beliau membaca ayat-ayat tentang syurga, beliau membaca ayat itu berulang-ulang kali, seraya memohon doa kepada Allah untuk mendapatkannya.”

Seseorang pernah berkunjung kepada Al-Fudhail untuk mendapatkan nasihat. Beliau pun mengungkapkan, “Kosongkan hatimu dari yang lain kecuali rasa takut dan tangismu kepada Allah swt. Jika keduanya sudah bersarang di hatimu, maka takut dan tangis itu akan menghalangmu dari melakukan maksiat dan menjauhkanmu dari api neraka.”

“Jika kamu merasa begitu berat untuk menunaikan qiamullail dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah, sesungguhnya dirimu telah terbelenggu oleh dosa dan maksiat yang kamu perbuat.”
Nasihat lain yang pernah beliau sampaikan adalah Tidak perlu dirisaukan seseorang jika telah berkumpul tiga hal dalam dirinya. Ia bukan ahli bid’ah, tidak mengumpat dan mencela ulama salaf, dan terakhir, tidak bersekutu dengan penguasa."

Jika malam telah datang, Al-Fudhail bin Iyadh akan menghamparkan sejadahnya untuk menunaikan qiamullail. Ia terus dalam keadaan solat, hingga rasa mengantuk yang tak tertahan. Ia pun berbaring sebentar di atas sajadah itu untuk berehat seketika kemudian kembali solat. Ketika datang lagi rasa mengantuk, maka dilebihkan memperlihatkan rasa takutnya kepada Allah dan tidak berharap sesuatu kepada manusia.

Ulama yang wafat di Mekah pada tahun 186 Hijriah ini menyampaikan sebuah nasihat yang begitu mendalam.
”Manusia paling berdusta adalah mereka yang mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Manusia paling bodoh adalah mereka yang menunjukkan amal kebaikannya. Manusia yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang paling takut kepada-Nya. Manusia tidak akan sempurna sehingga agamanya mampu mengalahkan nafsunya. Dan, manusia tidak akan binasa sehingga nafsunya mengalahkan agamanya.”
Post a Comment